Cinta Tanah-Air, Cermin Karakter Bangsa
Oleh Badjoeri Widagdo, SH, MH, MBA

Cinta tanah air ialah perasaan cinta terhadap bangsa dan negaranya sendiri.Usaha membela bangsa dari serangan penjajahan.Dalam cinta tanah air terdapat nilai-nilai kepahlawanan ialah:Rela dengan sepenuh hati berkorban untuk bangsa dan Negara.

PERNAHKAH Anda mendengar kata cinta? Jawabannya pasti sudah. Ratusan, bahkan ribuan kali setiap harinya kita mendengar kata tersebut. Tetapi jika kemudian diminta untuk mendiskripsikan maknanya, kalau ada lima orang berdebat tentang makna cinta, mungkin bisa muncul 15 item arti yang berbeda-beda.
Sebagai makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah SWT, dan relasi-relasinya yang harus ia kerjakan, perlu di-under line, bahwa tugas manusia itu dapat dirinci meliputi tugas-tugas vertikal dan tugas-tugas horisontal. Suatu tugas dikatakan sebagai tugas vertikal, jika ia berhubungan langsung dengan Allah (\’cinta\’ kepada Allah). Sementara itu, bila tugas tersebut berkaitan dengan makhluk (diri sendiri, orang lain, suatu kaum, bangsa, makhluk hidup yang lain, makhluk ghaib); hal tersebut disebut tugas horisontal. Pada tugas-tugas horisontal inilah terletak muatan-muatan cinta Tanah-Air.

SECARA agamais tugas-tugas yang sifatnya vertikal, adalah penegasan bagaimana menjalani hubungan dengan Allah SWT. Pengertian cinta yang ideal manusia, menuntut manusia agar mencintai Tuhan sebagai aktualisasi yang sempurna dari semua nilai moral, yang lebih penting maknanya dari segala sesuatu yang lain. Padahal, pengertian moral itu tidak bisa dipisahkan dari hal-hal tentang karakter. Sebabnya, adalah bahwa salah satu fitur dasar dari karakter adalah moralitas (yang baik). Ide tentang moralitas itu sendiri bersumber dari \’penilaian tentang apa yang baik dan apa yang buruk\’. Dengan perkataan lain, karakter (character, trait, watak, akhlak) itu meliputi dua dimensi pokok yaitu berkaitan dengan nilai-nilai baik dan buruk; atau benar dan salah.
Cinta menuntut agar manusia berlaku baik. Banyak sekali contohnya, mencintai orangtua, terutama kepada ibu yang telah mengandung dan melahirkannya dengan susah-payah. (Pelita, tanggal 8 Juli 2009, tentang Peran Ibu), dan lain-lain.
Berpegang pada agama (Islam), kewajiban mencintai itu dapat diperluas lebih jauh, meliputi kerabat, anak-anak yatim, orang-orang yang membutuhkan, tetangga yang dekat dan jauh, dan para musafir. Hal-hal di atas adalah wujud dari kebaikan dalam arti cinta kepada Allah. Dalam Al-Qur\’an banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa ciri dari orang beriman adalah bahwa mereka senantiasa membangun kasih sayang dan mencintai satu sama lain, mereka selalu bersikap rendah hati, ramah, dan menghargai terhadap sesamanya, suka membangun kebiasaan (habits) saling memaafkan dan mau melupakan kesalahan satu sama lain, meski dalam keadaan marah sekalipun.
Aktualisasi cinta kepada Allah sebagai implementasi dari tugas-tugas vertikal, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Sedekah, kasih sayang, rendah hati, suka memaafkan, tidak mudah marah; ini semua menyangkut kebaikan. Kata \’baik\’ adalah fitur moral. Itu hanya terbentuk jika dibiasakan dan menumbuhkan kemauan dari yang bersangkutan, jadi merupakan energi dan daya dorong bagi manusia yang bersangkutan. Jika itu dilakukan berulang-ulang, maka akan membudayakan dalam diri seseorang dan pada gilirannya mewujud menjadi karakter seseorang.

BEBERAPA hari lagi bangsa Indonesia merayakan 64 tahun Hari Kemerdekaan RI. Kita patut syukuri dan semua aktifitas menyangkut peringatan tersebut merupakan bagian dari cinta (terhadap) Tanah-Air. Berabad-abad lamanya, nenek-moyang Bangsa Indonesia juga sudah melakukan hal sama. Tengoklah sejarah Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, dan puncaknya tahun 1945, dan terus berlanjut hingga sekarang. Itu semua adalah tonggak-tonggak sejarah yang implikasinya, merupakan kecintaan terhadap Tanah-Air. Suatu bangsa tidak lahir begitu saja, juga bangsa Indonesia. Ia didahului oleh adanya ikatan-ikatan emosional dari suatu kelompok, lalu membesar, membesar yang mengkristal menjadi rasa kebangsaan, faham kebangsaan dan semangat kebangsaan. Dari kelompok tersebut, lalu mengikrarkan diri untuk membentuk sebuah bangsa dan negara. Karenanya tidak heran jika setiap perayaan Hari Kemerdekaan tiba, sebagian dari masyarakat mulai menjajakan pernak-pernik merah putih sebagai hiasan mobil, menjual umbul-umbul bendera Merah Putih dalam berbagai ukuran dan jenis kain. Benarkah semua itu pertanda cinta Tanah-Air? Bagaimana kita memaknai cinta Tanah-Air?

~ oleh galihadi pada Maret 10, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: